Pernah membaca tentang hasil penelitian Komnas Anak tahun 2008? 62,7% remaja SMP sudah tidak perawan lagi. Terus akhir-akhir ini juga dibeberapa majalah dimuat mengenai tulisan tentang fenomena seks di usia remaja. Yang paling mengerikan adalah fakta bahwa ada remaja SMP yang mengaku melakukan hubungan seks di rumahnya sendiri di ruang televise.
Entah karena kurang perhatian orang tua, sekolah yang kurang dapat mengontrol hal ini atau memang karena tuntutan kemajuan jaman yang memaksa remaja melakukan hal ini? Entahlah. Remaja memang merupakan masa transisi dari anak-anak menuju dewasa.
Tugas utamanya adalah pembentukan identitas atau konsep diri., dan membentuknya dengan baik memang tidak mudah. Masalah-masalah remaja seperti ini, sering timbul karena konsep diri remaja juga yang bermasalah. Mengijinkan dirinya melakukan hal ini, merusak diri sendiri karena ia menilai dirinya secara kurang tepat.
Saat ini sulit menemukan figure yang tepat untuk dijadikan model alias contoh bagi remaja untuk bertindak sebaiknya seperti apa. Hal ini, tampaknya dapat membuat remaja buntu mau harus bergerak kemana.
Apalagi informasi remaja juga sangat terbatas atas masalah ini. Dan sedihnya lagi, batasan yang kaku tanpa memberikan penjelasan, membuat remaja yang rasa keingintahuannya besar, malah ingin mencoba-coba, jadinya salah juga.
Beberapa kondisi remaja yang pernah kita lihat, mungkin pula dapat memberikan gambaran kepada remaja kita, ada yang menyedihkan dan adapula yang mengharukan. Di pinggiran Jakarta Barat, masalah seks dengan melegalkannyamenjadi pernikahan dini atas dasar masalah ekonomi yang mendesak, tampaknya sudah biasa. Orang tua di sana malah yang membiarkan anaknya menikah di usia dini agar perekonomian orang tua membaik.
Di sisi yang lain, di bagian Jakarta Barat yang lain, di daerah elitnya, remaja-remaja berkumpul untuk membahas bahwa pacaran sebaiknya tidak dilakukan dahulu, terkait dengan nilai-nilai budaya dan agama. Guru-guru yang memfasilitasi untuk pembahasan ini. Jangankan bicara mengenai seks secara vulgar, pacaran saja tidak boleh. Tapi apa itu cukup ?
Ada pula, remaja yang khusus di bawa orangtuanya dari luar negeri untuk dikonsultasikan ke professional, orangtua mulai prihatin karena anaknya pernah pulang hingga larut malam dengan baju yang super minim dan seksi.
Maka dari itu perlu peran komperhensip dengan adanya campurtangan dari guru dan orangtua untuk menjembatani masalah ini. Karena fenomenanya meski dianggap penting, pendidikan seks bagi remaja ternyata belum terlalu banyak dilakukan. Jarang ada guru yang kreatif yang bisa memfasilitasi hal ini.
Nah, mengharapkan dari guru saja, sebagai orang tua juga tampaknya tidak sempat. Sumber utama remaja bisa mendapatkan pemahaman yang tepat mengenai seks hanyalah bisa didapat secara tepat dari orang tua atau keluarga.
Akan tetapi, biasanya orang tua atau keluarga sendiri yang risih membahasnya. Untungnya, banyak buku-buku yang jadi pedoman untuk membahas masalah ini. Jadi bukan alasan untuk sulit melakukannya. Mungkin masalahnya, ada waktu tidak untuk membahasnya?
Tidak ada komentar:
Posting Komentar